2011/11/24

Tari Saman dari Provinsi Aceh masuk nominasi dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda pada sidang sesi ke-6 Komite Antarpemerintah UNESCO di Nusa Dua, Bali.
Baca selengkapnya »

Label:

Perwakilan Unesco kagumi kerajinan batik Pekalongan

Perwakilan Organisasi Kebudayaan, Pengetahuan dan Pendidikan PBB (Unesco) mengagumi produk kerajinan Pekalongan saat berkunjung ke Museum Batik dan Kampung Batik Kauman Pekalongan, Jateng, Senin.
Baca selengkapnya »

Label:

Ndalem Gebang


Ndalem Gebang ( Rumah tinggal Bung Karno ) merupakan rumah tempat tinggal Orang tua Bung Karno. Rumah ini letaknya tidak jauh dari Makam Bung Karno kira-kira 2 km ke arah selatan, tepatnya di Jalan Sultan Agung No. 59 Kota Blitar. Jawa Timur. Rumah ini sebenarnya milik bapak Poegoeh suami dari Sukarmini, kakak kandung Bung Karno.
Baca selengkapnya »

Label:

2011/11/04

Kalender Sunda diakui oleh kerajaan Malaysia

Keberadaan Kalender Sunda ternyata diakui oleh Kerajaan Kelantan Malaysia sejak tahun lalu.

"Kami turut bangga karena Kerajaan Malaysia pun mengakui keberadaan Kalender Sunda ini," kata Koordinator Acara Perayaan Tahun Baru Sunda 1 Kartika 1948 Dadang Hermawan, di Bandung, Rabu.

Baca selengkapnya »

Label:

2011/11/01

Orang Indonesia gemar minum jamu


Surakarta - Hampir separuh orang Indonesia mengonsumsi obat tradisional terutama jamu untuk pencegahan dan penyembuhan, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Setyaningsih.



"Sebanyak 49,53 persen penduduk Indonesia berusia 45 tahun keatas mengonsumsi jamu. Sekitar lima persen mengonsumsi jamu tiap hari sementara sisanya mengonsumsi jamu sesekali," kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih ketika membuka Konferensi Obat Tradisional ASEAN ke-3 di Surakarta.

Jenis obat tradisional yang paling banyak dikonsumsi adalah berbentuk jamu cair (55,16 persen), bubuk (43,99 persen), jamu seduh (20,43 persen) dan jamu yang dikemas secara modern dalam bentuk kapsul/pil/tablet (11,58 persen).

Obat tradisional disebut Menkes memang tidak hanya banyak digunakan di Indonesia tetapi juga di banyak negara di dunia.

"Di beberapa negara Asia dan Afrika, sekitar 80 persen penduduk bergantung pada obat tradisional untuk perawatan kesehatan primer," katanya.

Di Indonesia, dua tantangan terbesar dalam penggunaan obat tradisional adalah bahwa konsumen cenderung menganggap bahwa obat tradisional (herbal) itu aman, padahal belum adanya standarisasi membuat kualitas dan keampuhan obat menjadi berbeda-beda ditiap pasien.

Selain itu, di Indonesia juga belum ada izin praktik pengobatan tradisional dan kualifikasi praktisi kesehatan tradisional sehingga dikhawatirkan pengobatan yang dilakukan belum dapat dijamin keamanannya.

Menkes berharap konferensi Obat Tradisional ASEAN itu dapat mengembangkan pengobatan tradisional dalam kaitannya untuk dapat berintegrasi kedalam sistem layanan kesehatan nasional.

Indonesia terutama berkepentingan dalam pengembangan obat tradisional tersebut karena saat ini jamu telah digunakan secara luas di masyarakat dan memiliki sumber daya alam yang luas berupa keragaman jenis tanaman obat.

Dari sekitar 30 ribu spesies tanaman yang ada di Indonesia, 7.000 spesies merupakan tanaman obat dan 4.500 spesies diantaranya berada di Pulau Jawa.

Selain itu, Menkes menyebut ada 280 ribu praktisi pengobatan tradisional di Indonesia.

sumber : http://www.lihatberita.com/2011/10/orang-indonesia-gemar-minum-jamu.html

Label: ,

Orang Indonesia gemar minum jamu


Surakarta - Hampir separuh orang Indonesia mengonsumsi obat tradisional terutama jamu untuk pencegahan dan penyembuhan, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010, kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Setyaningsih.

Baca selengkapnya »

Label: ,

2011/10/26

Disiplin Keras Mendorong Anak-anak Berbuat Tidak Jujur


Jakarta, Anak-anak dalam lingkungan sekolah yang keras dalam memberi hukuman cenderung berbohong untuk menyembunyikan perilakunya daripada adalah anak-anak yang berada dalam lingkungan sekolah yang tidak menghukum.


Kajian yang dipublikasikan dalam jurnal Child Development ini juga menunjukkan bahwa anak-anak dalam lingkungan yang sering menghukum, akan berbohong dengan lebih meyakinkan daripada yang ada di lingkungan yang tidak menghukum.

Profesor Victoria Talwar dari McGill University dan Profesor Kang Lee dari Universitas Toronto memeriksa perilaku menipu dalam dua kelompok anak yang tinggal di lingkungan yang sama.

Satu kelompok terdaftar di sebuah sekolah swasta yang menggunakan model disiplin tradisional otoriter, di mana pelanggaran di sekolah mulai dari lupa membawa pensil hingga mengganggu kelas akan dihukum berat dengan cara dipukul dengan tongkat, ditampar kepalanya dan dicubit.

Sedangkan di sekolah lainnya yang juga swasta, anak-anak didisiplinkan dengan cara dipisahkan dengan teman-temanya, dimarahi dan dibawa ke kantor kepala sekolah untuk pelanggaran yang lebih serius.

Peneliti kemudian membandingkan perilaku anak-anak di dua sekolah tersebut. Anak-anak diperlakukan individual dan diminta memainkan permainan menebak. Anak-anak diminta untuk tidak mengintip mainan ketika ditinggalkan sendirian di sebuah ruangan. Kebanyakan anak-anak di kedua sekolah tidak bisa menahan godaan dan mengintip mainan.

Ketika peneliti bertanya apakah mereka mengintip, hampir semua pengintip dari sekolah yang memberi hukuman keras berbohong. Pada sekolah yang tidak menghukum keras, hanya lebih dari setengah pengintip yang berohong.

Terlebih lagi, setelah kebohongan pertama, anak pembohong dari sekolah dengan hukuman keras lebih mampu mempertahankan kebohongannya ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang jenis mainan. Mereka dengan sengaja memberikan jawaban yang salah atau berpura-pura bodoh dengan tidak mengatakan nama mainan.

"Temuan kami menunjukkan bahwa lingkungan hukuman tidak hanya memupuk ketidakjujuran tetapi juga meningkatkan kemampuan anak untuk menyembunyikan kebohongannya," keta Prof. Talwar.

Bahkan anak pembohong di sekolah yang keras, berusia 3-4 tahun memiliki kemampuan berbohong layaknya anak yang berusia 6-7 tahun.

"Temuan ini mengejutkan. Kajian yang ada telah secara konsisten menemukan bahwa anak-anak dari lingkungan yang keras menghukum cenderung mengalami keterlambatan dalam perkembangan mentalnya," kata Prof. Lee seperti dikutip dari Eurekalert.org, Selasa (25/10/2011).

"Salah satu kemungkinannya adalah karena hukuman yang keras memperkuat motivasi anak untuk menghadapinya dengan strategi yang dapat membantunya bertahan dalam lingkungan tersebut. Berbohong tampaknya sangat adaptif untuk situasi ini," imbuh Prof Lee.

Menurut peneliti, kajian ini dapat berfungsi sebagai peringatan kepada orang tua yang terkadang menggunakan hukuman keras ketika mengetahui anaknya berbohong. Hukuman fisik tidak akan mengurangi kecenderungan anak untuk berbohong, tapi justru meningkatkan potensi keterampilan bohongnya.

sumber : detikhelth.com

Label:

Disiplin Keras Mendorong Anak-anak Berbuat Tidak Jujur


Jakarta, Anak-anak dalam lingkungan sekolah yang keras dalam memberi hukuman cenderung berbohong untuk menyembunyikan perilakunya daripada adalah anak-anak yang berada dalam lingkungan sekolah yang tidak menghukum.
Baca selengkapnya »

Label:

2011/10/25

Kesenian Jaranan Meriahkan Bersih Desa

Setiap tahun tepat pada hari Jum’at Pahing bulan Selo, Kelurahan Blitar Kecamatan Sukorejo Kota Blitar selalu menggelar upacara adat ritual Bersih Desa. Puncak acara tahun ini berlangsung pada hari Jum’at pagi (21/10).
Diisi dengan kirab seni budaya keliling Kelurahan Blitar dengan start dan finish di depan Kantor Kelurahan Blitar. Dalam kirab budaya ini dimeriahkan oleh puluhan grup kesenian yang ada dikelurahan Blitar


Supriyanto, Lurah Blitar Kecamatan Sukorejo Kota Blitar saat dikonfirmasi disela - sela kirab Jumat pagi (21/10) menyebutkan, dalam kirab budaya ini diikuti kesenian kesenian yang ada di Kelurahan Blitar. Seperti empat grup kesenian Jaranan dan penampilan komponen pelajar di wilayah Kelurahan Blitar juga ikut andil dalam kirab udaya ini, seperti becak hias, drum band serta pasukan pengibar bendera oleh para pelajar. Sedangkan sebelum puncak acara berlangsung, sudah didahului dengan kegiatan -kegiatan keagamaan, seperti pembacaan tahlil dan khotaman Al-Qur’an. Sementara setelah puncak acara juga diisi dengan kenduri massal di Balai Kelurahan Blitar. Setelah selesai sholat Jum’at, diisi dengan kesenian langen tayub hingga malam hari.

”Dengan adanya bersih desa ini diharapkan bisa membersihkan diri dan menghilangkan pemikiran negatif untuk menatap kedepan yang lebih baik, tidak hanya bagi pemerintah saja, namun juga masyarakat. Selain sebagai sarana untuk melestarikan seni budaya yang ada,” harap Lurah Blitar.


Kirab budaya ritual bersih desa di Kelurahan Blitar ini diberangkatkan oleh Walikota Blitar, Muhammad Samanhudi Anwar, SH. Dalam sambutanya Walikota menyambut baik dan memberikan penghargaan apresiasi terhadap masyarakat dan kelurahan Blitar yang secara terus menerus nguri - nguri budaya dengan baik.

sumber : http://blitarkota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5474

Label:

Kesenian Jaranan Meriahkan Bersih Desa

Setiap tahun tepat pada hari Jum’at Pahing bulan Selo, Kelurahan Blitar Kecamatan Sukorejo Kota Blitar selalu menggelar upacara adat ritual Bersih Desa. Puncak acara tahun ini berlangsung pada hari Jum’at pagi (21/10).
Baca selengkapnya »

Label:

2011/10/24

Gubernur Apresiasi Kesenian Barongan Kucingan Kota Blitar

Tim Kesenian Kota Blitar yang menampilkan tarian kolosal Barongan Kucingan dalam Pawai Budaya Negara Kertagama, dalam rangka peringatan HUT Propinsi Jawa Timur ke-66 awal 16 Oktober 2011 lalu di Surabaya, mendapatkan sambutan meriah dari penonton.
Bahkan ketika melakukan demo di depan panggung kehormatan selama dua menit, Sukarwo Gubernur Jawa Timur merespon positif hingga berdiri dari tempat duduknya serta melambaikan tangan pada tim kesenian Kota Blitar. Pernyataan ini diungkapkan Djoko Harianto, Kepala Bidang Seni Budaya Dinas Kominparda Kota Blitar saat dikonfirmasi di kantornya Kamis (20/10).


Lebih lanjut Djoko menjelaskan hingga saat ini belum ada informasi mengenai hasil penilaian peserta pawai budaya oleh tim juri. Namun demikian, dari awal Kota Blitar tidak menargetkan mendapatkan juara. Karena tujuan utama memperkenalkan keberadaan kesenian barongan kucingan, asli Kota Blitar. Pasca mengikuti pawai budaya ini, pihaknya berencana melakukan pembinaan kepada seniman terkait dengan kesenian barongan kucingan.


”Tarian kolosal ini belum pernah sekalipun tampil di Kota Blitar, besar harapan kami nanti bisa dinikmati masyarakat Kota Blitar,” tambah Kabid Seni Budaya Dinas Kominparda Kota Blitar.


Dalam pawai budaya Negara Kertagama tingkat Propinsi Jawa Timur lalu, Kota Blitar mengikutsertakan sekitar 50 seniman dan membawakan kesenian Barongan Kucingan yang diangkat dari kisah peperangan Patih Bujang Ngganong melawan Prabu Singo Barong. Dalam peperangan itu Prabu Singo Barong mengalami kekalahan dan jasadnya musnah. Oleh masyarakat Blitar dipercaya berubah menjadi seekor kucing. Barongan kucingan dikolaborasikan dengan cemeti samandiman yang memiliki panjang hampir 4 meter.

sumber : http://blitarkota.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=5462

Label:

Gubernur Apresiasi Kesenian Barongan Kucingan Kota Blitar

Tim Kesenian Kota Blitar yang menampilkan tarian kolosal Barongan Kucingan dalam Pawai Budaya Negara Kertagama, dalam rangka peringatan HUT Propinsi Jawa Timur ke-66 awal 16 Oktober 2011 lalu di Surabaya, mendapatkan sambutan meriah dari penonton.
Baca selengkapnya »

Label:

2011/10/13

Istana Gebang


Istana Gebang atau lebih dikenal dengan sebutan Dalem Gebang (ndalem gebang), merupakan rumah tempat tinggal orang tua Bung Karno. Istana ini bertempat di Jl. Sultan Agung 69, Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.


Setiap bulan Juni Istana Gebang ramai dikunjungi para wisatawan, baik dalam rangka Haul Bung Karno ataupun karena adanya kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Blitar, seperti Grebeg Pancasila.

Sumber : http://travellers2009.wordpress.com/category/blitar/

Label:

Istana Gebang


Istana Gebang atau lebih dikenal dengan sebutan Dalem Gebang (ndalem gebang), merupakan rumah tempat tinggal orang tua Bung Karno. Istana ini bertempat di Jl. Sultan Agung 69, Kelurahan Sananwetan, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.
Baca selengkapnya »

Label:

Lestarikan bahasa daerah perlu komitmen lapangan kerja

Pengembangan Bahasa Indonesia Prof Dr Cece Sobarna MHum mengatakan, untuk melestarikan bahasa daerah diperlukan komitmen positif dari para pemangku kepentingan dalam membuka lapangan kerja bagi lulusan sastra daerah.


"Adanya keengganan generasi muda untuk melestarikan bahasa daerahnya karena selama ini mereka menganggap dengan mahir berbahasa daerah belum tentu dapat mendatangkan penghasilan di kemudian hari," kata Cece Sobarna saat menjadi pembicara pada Kongres Bahasa Bali VII di Denpasar, Rabu malam.

Menurut dia, berbeda halnya dengan penguasaan bahasa asing yang dianggap memberikan peluang kerja menjanjikan.

"Karakter masyarakat Indonesia saat ini terkadang melihat bahwa nilai yang dari luar itu terlalu positif. Di samping karena pengaruh globalisasi yang menyebabkan tergerusnya pemakaian bahasa daerah sebagai salah satu nilai identitas masyarakat," ujar Cece.

Oleh karena itu, kata dia, harus mulai ada keinginan dan komitmen yang positif dari pemerintah selaku pemangku kepentingan untuk membuka lapangan kerja yang relevan bagi lulusan pelestari bahasa daerah.

"Penjaminan lapangan kerja harus serius dipikirkan karena bahasa merupakan kekayaan budaya dari sisi mental yang tidak bisa dinilai secara material. Dewasa ini, nampak kecenderungan kita hanya menghargai budaya dari sisi fisik saja," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Tinggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Dr Tony Djubiantono, pembicara lainnya mengatakan, keterpinggirkannya bahasa daerah disebabkan karena terjadi pertarungan budaya sebagai dampak dari perkembangan budaya yang tumbuh dengan cepat.

"Budaya yang kuat akan menggilas budaya yang lemah," katanya.

Terkait dengan pelestarian bahasa Bali, Tony menyarankan perlu terus digali nilai-nilai unggul yang sudah ada di dalamnya untuk dipertahankan. Sedangkan kebutuhan-kebutuhan baru disesuaikan dengan situasi aktual serta diberikan ruang untuk pengembangannya.

Ia mengusulkan perlunya dipikirkan bentuk-bentuk kemasan bahasa yang lebih menarik bagi kaum muda sehingga akan meningkatkan minat mereka dalam mempelajari dan menggunakan bahasa Bali sebagai bahasa pergaulan, serta sebagai wahana yang apresiatif dan edukatif.

"Penggunaan bahasa Bali dalam seni pertunjukan ataupun teater harus terus dipelihara vitalitasnya. Bentuk pengemasannya hendaknya tidak lepas dari industri budaya itu sendiri dalam menjawab tantangan zaman," ujar Tony.

sumber : http://www.antaranews.com/berita/279517/lestarikan-bahasa-daerah-perlu-komitmen-lapangan-kerja

Label:

Lestarikan bahasa daerah perlu komitmen lapangan kerja

Pengembangan Bahasa Indonesia Prof Dr Cece Sobarna MHum mengatakan, untuk melestarikan bahasa daerah diperlukan komitmen positif dari para pemangku kepentingan dalam membuka lapangan kerja bagi lulusan sastra daerah.
Baca selengkapnya »

Label:

2011/10/12

Tari tradisional Jambi mulai punah

Budayawan Jambi yang juga koreografer dan kurator tari tradisional Tom Ibnur mengungkapkan dari hasil penelitian yang dilakukannya diketahui 40 persen tarian tradisional Jambi sudah punah.


"Dari penelitian yang saya lakukan, ada kesimpulan yang sangat memiriskan hati, yaitu punahnya 40 persen khasanah tarian tradisional Jambi, artinya, dari 100 tari yang pernah ada, 40 di antaranya kini sudah punah," katanya di Jambi, Selasa.

Ada sejumlah tarian kini sudah tidak ditemukan lagi keberadaanyna di tengah masyarakat, meskipun kelompok masyarakat mengakui dulu memiliki jenis tarian tersebut.

Selain 40 persen telah punah, 20 persen selebihnya dalam kondisi kritis atau nyaris punah, 20 persen lagi mulai terlihat gejala sakit, dan hanya sekitar 20 persen saja yang benar-benar masih eksis atau bertahan dan terus bisa berkembang.

Tom menegaskan, rangkuman kesimpulan tersebut hasil penelitian yang dilakukannya pada 1995 hingga 1998 lalu, saat ini tentu saja angka kepunahan itu sudah bertambah hingga lebih dari 40 persen.

"Angka 40 persen itu hasil penelitian tahun 1995, Mungkin saat ini angkanya sudah 50-60 persen, apalagi di tengah derasnya akulturasi dan ekspansi budaya barat di era globalisasi ini pasti sangat mempengaruhi keberadaan kebudayaan tradsional masyarakat moderen saat ini," kata Tom yang juga dosen IKJ dan berbagai perguruan tinggi seni dalam dan luar negeri ini.

Tom mengaku dirinya bersama Langkan Budaya Taratak yang dipimpinnya telah bertahun-tahun berupaya merevitalisasi dan merekonstruksi kembali berbagai jenis tarian tradisional yang telah punah tersebut.

Namun perkembangan dan kontinyuitasnya tetap saja sulit dipertahankan keberadaannya di tengah masyarakat.

Sanggar-sanggar yang didirikan supaya dapat menjadi penopang bertahannya tarian khas kelompok masyarakat tersebut, akhirnya kembali hilang dan tenggelam.

sumber : http://www.antaranews.com/berita/279266/tari-tradisional-jambi-mulai-punah

Label:

Tari tradisional Jambi mulai punah

Budayawan Jambi yang juga koreografer dan kurator tari tradisional Tom Ibnur mengungkapkan dari hasil penelitian yang dilakukannya diketahui 40 persen tarian tradisional Jambi sudah punah.
Baca selengkapnya »

Label:

Gamelan dorong perkembangan tari modern

Seorang pengamat seni, Kadek Suartaya, mengatakan, gamelan klasik Gong Gede turut mendorong perkembangan tari kreasi modern.
"Tabuh dan tari kreasi modern itu berawal dari munculnya gamelan gong Kebyar di Bali Utara pada 1915," kata dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu, Selasa.


Menurut dia, persentuhan Bali dengan dunia barat sejak akhir abad XIX juga menjadi pemicu atas pertumbuhan berbagai jenis tari kreasi baru yang berakar dari tari sakral dan tari tradisi.

Ia mengemukakan bahwa gamelan modern Bali yang dikembangkan dari gamelan klasik Gong Gede itu mendorong tumbuh suburnya tari-tarian baru yang lazim disebut seni pertunjukan kebyar.

Koreografi tari kebyar yang menonjolkan aspek improvisasi itu menekankan tata musikal gamelan yang rumit dalam ungkapan yang menggairahkan.

Almarhum I Ketut Marya seniman asal Tabanan menjadi maestro tari kebyar dengan ciptaannya yang monumental. Tari Kebyar Duduk atau tari Kebyar Terompong, tari tunggal ciptaan tahun 1925 itu biasanya dibawakan seorang pemuda tampan.

Tari dan tabuh itu hingga kini masih lestari diwarisi dari satu generasi ke generasi yang tetap memesona penonton, termasuk wisatawan mancanegara dalam menikmati liburan di Pulau Dewata.

Suartaya menambahkan, kendati seni kebyar cukup mendominasi perkembangan tari Bali, namun sejatinya mata air seni pertunjukan Bali pada umumnya, adalah drama tari Gambuh.

"Teater total yang berkembang pada masa Dalem Waturenggong berkuasa di Bali (1416-1550) adalah sumber dan menjadi acuan pengembangan tari Bali," tutur Kadek Suartaya.

Ia menjelaskan, seni pertunjukan Bali yang hingga kini tetap kokoh dan lestari diduga berasal dari warisan kerajaan Majapahit dan jejak-jejaknya sudah muncul di Bali saat pemerintahan Udayana pada abad ke-11.

Elemen-elemen seni itu tersebar pada beberapa kesenian Bali seperti Calonarang, Arja, dan Legong. Bahkan sejak I Ketut Marya menciptakan tari Kebyar Duduk pada 1925, hingga kemerdekaan RI tercipta bentuk-bentuk tari yang diterima antusias masyarakat Pulau Dewata.

Jenis kesenian itu antara lain Panji Semirang, Margapati, Wiranata dan tari berkarakter ganda atau babancihan lainnya. Masa pemerintahan Presiden Soekarno memberikan angin segar terhadap berkembangkan tari-tarian kebyar yang mengisahkan tentang kehidupan sosial.

Tarian tersebut antara lain tari Tenun, Nelayan, Tani, dan sebagainya dalam bingkai estetika visual tari pantomime realistik.

Tahun 1970-an geliat tari-tarian Kebyar semakin marak dengan munculnya para koreogafer lulusan lembaga pendidikan formal kesenian dengan ciptaannya antara lain tari Manukrawa oleh Prof Dr I Wayan Dibia, (1982), Cendrawasih oleh NLN Swasthi Widjaja Bandem (1990), dan Satya Brasta oleh I Nyoman Cerita (1989).

sumber : http://www.antaranews.com/berita/279308/gamelan-dorong-perkembangan-tari-modern

Label:

Gamelan dorong perkembangan tari modern

Seorang pengamat seni, Kadek Suartaya, mengatakan, gamelan klasik Gong Gede turut mendorong perkembangan tari kreasi modern.
"Tabuh dan tari kreasi modern itu berawal dari munculnya gamelan gong Kebyar di Bali Utara pada 1915," kata dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu, Selasa.
Baca selengkapnya »

Label: